Manajemen Resiko

Pengelolaan resiko atau manajemen resiko yang diterapkan di ICH bertujuan untuk mengelola resiko dengan prinsip kehati-hatian dengan mempertahankan tingkat risiko yang dapat diterima sesuai dengan kepentingan bisnis yang berjalan, serta dapat mengambil resiko yang lebih tinggi bila dirasa perlu untuk usaha atau produk baru untuk semua pemangku kepentingan (stakeholders).

Manajemen risiko di ICH telah dikembangkan dengan mengacu kepada prinsip-prinsip pasar terbaik internasional, dinyatakan dalam prinsip-prinsip dari Financial Market Infrastructure (FMI) yang di terbitkan oleh Bank of International Settlement and the International Organization of Securities Commissions, (BIS OICV-IOSCO).

Risiko dapat diartikan sebagai potensial dari sebuah kejadian pada peristiwa yang akan berpotensi menimbulkan kerugian di perusahaan, serta dikelola oleh rangkaian prosedur-prosedur dan metodologi yang diadopsi untuk mengidentifikasi, menilai, memonitor dan mengontrol risiko yang timbul di dalam bisnis dan operasional perusahaan.

Strategi-Strategi Dasar Manajemen Risiko

1. Pada dasarnya pengontrolan dan manajemen risiko di dalam perusahaan adalah untuk mengambil risiko yang cakupan pengontrolannya dilakukan oleh jajaran direksi dan organ lainnya dalam hal implementasi strategi bisnis.

2. Dasar pemikiran dari pengontrolan dan manajemen risiko secara komprehensif mengontrol dan mengelola risiko-risiko perusahaan dengan sedapat mungkin menggunakan penyeragamaan.

3. Pengontrolan dan pengelolaan risiko secara menyeluruh sebagai asas dalam mencapai keuntungan/profit perusahaan yang stabil yang diimbangi dengan risiko, pencapaian yang sesuai dengan struktur kapital dan alokasi sumber daya, dan pencapaian lainnya, dengan cara mengidentifikasi/mengenali, mengevaluasi/menghitung, mengontrol, dan memonitor/melaporkan semua risiko-risiko.

4. Pengawasaan dan pelaporan: Proses memperbaruhi status pengawasan risiko dan perlakuan pengecualian, serta laporan kepada Manajemen Eksekutif oleh Risk Management Department (RMD) yang independen.

Proses Manajemen Risiko

Dalam rangka mengontrol dan mengelola masing-masing risiko secara tepat, proses berikut ini harus digabungkan dengan cara yang memadai.

1. Mengidentifikasi dan mengenali risiko: Proses identifikasi tipe dan lokasi dari risiko dari setiap transaksi, portofolio, dan hal-hal yang berlaku.

2. Mengevaluasi dan menghitung risiko: Proses membuat indikator status risiko menggunakan nilai-nilai numeric, ataupun penilaian kualitatif secara komprehensif untuk level transaksi individual dan level portofolio.

3. Pengontrolan risiko: Proses dari pengontrolan status risiko yakni dengan menguji dan mereview otoritas, batas-batas, proses-proses operasional, dan hal-hal lainnya (termasuk perencanaan untuk perlakuan pengecualian). Hal tersebut ditetapkan dalam kebijakan-kebijakan, peraturan-peraturan, prosedur-prosedur, arahan-arahan, maupun metode pengontrolan lainnya.

Mitigasi Risiko

Peran ICH dalam proses mitigasi risiko yang diperlukan oleh Anggota Kliring/Member adalah untuk meminimalisir atau mengelola terjadinya suatu risiko.

MARGIN

Pre-trade margining digunakan oleh ICH untuk mengatasi risiko terhadap kewajiban atas kontrak perdagangan. Margin yang berfungsi sebagai premi risiko akan diatur pada tingkat tertentu disesuaikan dengan potensi risiko tiap transaksi yang akan dilakukan. Dengan menggunakan sistem margining, biaya perdagangan menjadi jauh lebih rendah dibandingkan bila anggota dikenakan biaya premi risiko.

VOLATILITAS & MARGIN CALL

Risiko yang melekat pada posisi transaksi dikalkulasi secara teratur oleh ICH berdasarkan perkembangan kondisi pasar, dan jika deposit margin Anggota Kliring tidak lagi mencukupi untuk menutup risiko, Anggota Kliring akan diminta untuk melakukan setoran tambahan dana (margin call). Ketika deposit margin Anggota Kliring tidak mencukupi dan tidak dipenuhi tepat waktu, ICH dapat secara paksa menutup posisi perdagangan yang ada.

CROSS MARGINING

Pelaku pasar akan melakukan arbitrase diantara kontrak-kontraknya, tidak semata - mata memperhatikan pergerakan harga dari kontrak itu sendiri, tetapi juga pada hubungan harga antara dua kontrak. Jika ada korelasi negatif antara dua posisi yang dipegang pelaku pasar (yaitu, jika harga satu kontrak naik, harga yang lain cenderung turun) maka risiko gabungan yang diambil oleh peserta yang memiliki dua kontrak tersebut lebih rendah dibandingkan risiko masing-masing kontrak tunggal. ICH mengakui hal ini, dan mengijinkan pengurangan margin untuk posisi gabungan tersebut yang disebut sebagai "spread margin" atau juga, "cross margin"

RISK WATERFALL

Pengertian dan Cara Perhitungan Margin

Margin adalah sejumlah uang dan/atau surat berharga yang jarus ditempatkan oleh nasabah pada pialang berjangka, pialang anggota berjangka pada anggota kliring berjangka, atau anggota kliring berjangka pada lembaga kliring berjangka untuk menjamin pelaksanaan transaksi kontrak berjangka, kontrak derivatif syariah dan/atau kontrak derivatif lainnya.

No.

Documents

Link Download

1

Seni dan Pengetahuan Tentang Margin

2

Fasilitas Cross Margining